Republiktv.com- Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin meminta Pemerintah Belanda menjelaskan keberadaan kepala atau tengkorak Demang Lehman yang hingga kini berada di Belanda. Ia sekaligus meminta benda bersejarah tersebut dikembalikan ke Kalimantan Selatan.
Permintaan itu disampaikan Muhidin saat menerima kunjungan kerja Deputy Head of Mission atau Wakil Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Marc Gerritsen, di Rumah Dinas Gubernur Kalsel, Jalan Letjen R. Suprapto, Banjarmasin, Senin (5/10/2026).
Muhidin mengatakan, upaya pemulangan kepala Demang Lehman merupakan bagian dari aspirasi tokoh dan masyarakat Kalimantan Selatan yang telah lama menginginkan benda-benda bersejarah peninggalan Kesultanan Banjar kembali ke daerah asalnya.
Demang Lehman dikenal sebagai salah satu panglima dalam Perang Banjar. Ia ditangkap dan dihukum gantung di Martapura pada 27 Februari 1864. Sejumlah sumber sejarah mencatat bagian kepalanya kemudian dibawa ke Belanda oleh Van den Bossche pada 1867 dan dikaitkan dengan koleksi di Leiden.
Selain kepala Demang Lehman, Muhidin juga meminta perhatian Pemerintah Belanda terhadap benda bersejarah lainnya, termasuk berlian Banjarmasin yang memiliki keterkaitan dengan Sultan Adam dan kini berada di Rijksmuseum Amsterdam.
Catatan provenance yang diterbitkan dalam kajian ilmiah menyebut berlian tersebut merupakan bagian dari sejarah Kesultanan Banjarmasin. Berlian itu dikirim ke Belanda pada 1861 dan kemudian menjadi bagian dari koleksi Rijksmuseum.

Menanggapi permintaan tersebut, Marc Gerritsen mempersilakan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan menyampaikan permohonan secara resmi melalui surat kepada Kedutaan Besar Belanda.
Permohonan serupa juga dapat disampaikan melalui Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon yang disebut akan melakukan kunjungan kerja ke Belanda dalam waktu dekat.
Merespons hal itu, Gubernur Muhidin langsung meminta Sekretaris Daerah Provinsi Kalsel menyiapkan surat permohonan agar proses tersebut dapat segera ditindaklanjuti.
Pertemuan tersebut turut dihadiri Sekdaprov Kalsel Muhammad Syarifuddin, Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Galuh Tantri Narindra, Kepala Dinas Pendidikan Abdul Rahim, Kepala Biro Pemerintahan Rospana Sofian, Kepala Biro Organisasi Nasrullah, serta anggota Tim Ahli Gubernur Nurul Fajar Desira.
Selain membahas benda bersejarah, pertemuan juga membicarakan peluang kerja sama dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Kalimantan Selatan.
Pihak Kedutaan Besar Belanda menyatakan kesediaannya membantu apabila diperlukan Pemerintah Provinsi Kalsel. Muhidin menyambut positif tawaran tersebut, namun menjelaskan bahwa sebagian karhutla di Kalsel terjadi di kawasan lahan gambut yang membutuhkan penanganan khusus.
Menurut Muhidin, pengelolaan kawasan terdampak juga tidak sederhana karena sebagian lahan merupakan hak masyarakat, termasuk lahan pertanian dan perkebunan.
Dalam pertemuan itu, Muhidin turut menawarkan kerja sama dengan Pemerintah Belanda dalam pengelolaan Waduk Riam Kiwa setelah proyek pembangunannya selesai.
Ia menjelaskan, pemerintah saat ini berfokus pada pembiayaan pembangunan waduk. Sementara pengelolaan dan pemanfaatan air setelah waduk beroperasi, termasuk bagaimana air dialirkan kepada masyarakat, dinilai dapat menjadi ruang kerja sama dengan Pemerintah Belanda.

